FKIP Building UMBY, Jl. Wates KM 10
+62 85641855367

Monica Yoseva Purba: Berawal Dari Magang Sekarang Jadi Pengarang

Oleh: Monica Yoseva Purba

Saya Monica Yoseva Purba. Orang-orang biasa memanggil saya Eva atau Monica di kehidupan sehari-hari. Saya sulung dari 3 bersaudara dan saya tumbuh dalam dua budaya yang berbeda yaitu budaya jawa dan batak. Dari kecil saya gemar menulis. Kegemaran itu saya salurkan lewat menulis diari dan beberapa puisi singkat di buku tulis. Dulu saya masih memiliki sedikit ketertarikan dalam dunia tulis menulis sampai pada akhirnya saya memasuki dunia perkuliahan yang hingga saat ini membuat saya semakin menyukai kegitan menulis. Biasanya saya menuliskan hal yang paling dekat dengan kondisi saya ke dalam sebuah esai sederhana dan puisi. Semua keresahan itu saya coba rangkai menjadi tulisan yang harapannya juga bisa dinikmati oleh orang banyak, baik melalui tulisan cetak atau digital. Kegemaran dalam hal menulis juga tidak bisa lepas dari orang-orang di sekitar saya yang selalu memberikan dukungan dan apresiasi yang baik terhadap karya saya. Ada seorang dosen yang begitu lekat dalam hati saya karena dukungan beliau lah saya bisa berkembang dan terus menulis seperti sekarang ini.

Semasa kuliah, saya banyak mendapatkan pengalaman berharga yang membantu saya untuk dapat melihat sisi kehidupan dari berbagai sudut pandang. Beberapa pengalaman yang berkesan seperti yang pertama adalah mengikuti lomba debat bahasa Inggris tingkat prodi di universitas. Sebelum memutuskan untuk menjadi peserta, saya sempat berkecil hati dan merasa tidak mampu untuk mengikuti lomba itu. Namun lagi-lagi seorang dosen menyakinkan saya bahwa saya mampu melakukannya. Tak disangka ternyata tim dari program studi saya unggul diantara tim lainnya. Hal itu pula yang membawa saya dan kedua teman saya yang lain maju ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu NUDC (National University Debate Championship), sebuah perlombaan debat bahasa Inggris tingkat Wilayah V Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V Yogyakarta. Betapa bangga dan senangnya saya saat itu ditambah lagi saat tiba hari dimana perlombaan berlangsung. Saya bertemu dengan banyak mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Yogyakarta, negeri maupun swasta dan melihat mereka menunjukkan kemampuannya dalam bidang debat.

Hal kedua yang berkesan adalah saat saya mendaftar menjadi mahasiswa magang prodi sebagai content writer. Awalnya saya kembali meragukan diri sendiri saat itu tetapi hasrat saya soal menulis kembali menggoda saya untuk berani menjadi bagian dari kesempatan yang dibuka saat itu. Saya akhirnya menjadi bagian dari tim magang yang juga didalamnya terdapat 3 teman saya yang lain selama jangka waktu kurang lebih 2 tahun. Selama tahun-tahun itu, tugas saya adalah menuliskan rilis berita kegiatan dan juga caption di Instagram. Itu adalah masa yang sangat menantang sekaligus menyenangkan karena saya melakukan hal yang memang saya minati. Dari menjadi mahasiswa magang itu, saya mendapat banyak ilmu dan pengalaman berharga yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.

Hal yang ketiga ini saya lakukan di tahun 2020 dimana tahun itu adalah masa pandemi Covid-19 mulai menimpa seluruh negara di dunia. Keadaan berubah 180 derajat. Hal itu membuat semua orang terpaksa harus beraktivitas lebih banyak di dalam rumah untuk mencegah penularan virus. Demikian pun hal itu terjadi pada saya. Saya melakukan banyak hal baru di rumah untuk mengurangi rasa bosan dan jenuh sampai pada akhirnya saya mengikuti perlombaan puisi. Nantinya puisi yang berhasil lolos setelah dikurasi oleh kurator akan diterbitkan menjadi buku antologi puisi yang ber-ISBN. Tak disangka puisi saya yang mengangkat tema tentang Ibu itu pun berhasil lolos. Kini saya memiliki satu buku antologi puisi yang di dalamnya terdapat puisi yang saya tulis.

Pencapaian saya baru-baru ini adalah dipublikasikannya tulisan saya yang berjudul Take A Break Instead Of Ending The Story di Medium, sebuah platform menulis digital. Lagi-lagi tulisan ini lahir dari keresahan saya sendiri. Sebelum saya mengirimkan draf tulisan ini saya memiliki prasangka buruk seperti kebiasaan saya di jauh-jauh hari. Saya takut jika tulisan saya tidak layak dibaca orang dan tidak berisi sama sekali. Bersyukurnya saya karena ternyata dugaan itu tidak benar adanya. Tulisan saya berhasil memenuhi persyaratan yang ada dan mendapatkan respon yang baik pula dari pembaca.

Itulah beberapa pengalaman berkesan yang saya miliki. Selain menulis, saya juga senang membaca buku dan artikel pengembangan diri, mendengarkan musik, menonton film dan menyanyi. Saya pernah menjadi bagian dari paduan suara di kampus tempat saya berkuliah selama beberapa waktu sebelum memutuskan untuk keluar dari paduan suara itu karena beberapa alasan. Di waktu luang juga saya terkadang menggunakan aplikasi untuk mencari teman dari negara lain. Beberapa teman yang saya dapat sampai sekarang masih berhubungan dengan baik dengan saya hingga saat ini.

Jika kalian ingin membaca tulisan saya, silahkan kunjungi akun Medium saya monicayoseva.medium.com/

Terakhir untuk menutup cerita ini saya ingin mengutip tulisan dari seorang penulis di Medium.

“If you want to achieve any big success, you have to be willing to risk big failures. You have to be willing to crash and burn, in front of all of your friends. You have to be willing to take people’s crap, people’s mockery, and people’s cringes” — Haikal Satria